oleh

Sekolah Menolak Calon Siswa : Wali Murid Protes

Mojokerto – Sejumlah orang tua siswa memprotes PPDB sistem zonasi di SMPN 2 Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Para wali murid ini merasa dicurangi lantaran jarak rumah mereka lebih dekat, tapi tak diterima di sekolah tersebut

Semula sejumlah orang tua siswa ini melihat daftar siswa yang diterima pada papan pengumunan di depan SMPN 2 Gedeg, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg. Daftar siswa yang diterima melalui sistem zonasi di sekolah ini seketika membuat mereka geram.

Betapa tidak, banyak siswa yang diterima mempunyai jarak rumah dengan sekolah di lebih dari 2 km. Sementara jarak rumah mereka kurang dari 1,4 km dari SMPN 2 Gedeg. Sejumlah wali murid ini pun mempertanyakan ke pihak sekolah.

Sayangnya, kedatangan mereka hanya disambut seorang guru perempuan. Guru ini meminta para orang tua siswa untuk menanyakan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto. Merasa diping-pong, salah satu orang tua siswa pun meluapkan amarahnya dengan menggebrak meja.

Aksi protes ini salah satunya dilakukan Mulyadi (58), warga Dusun Tumpak, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg. Dia mengaku kesal lantaran cucunya tak diterima di SMPN 2 Gedeg melalui jalur zonasi. Padahal, jarak rumah cucunya hanya 1,31 Km dari sekolah tersebut. Sekolah negeri ini terletak di desa yang sama, tepatnya di Dusun Losari Timur.

“Banyak yang jaraknya lebih dari dua kilometer diterima, tapi cucu saya hanya 1,31 kilometer tidak diterima. Ini janggal, apalagi pengumuman tidak mencantumkan alamat dari siswa yang diterima,” kata Mulyadi kepada wartawan di SMPN 2 Gedeg, Jumat (5/7/2019).

Ia menjelaskan, lahan yang kini ditempati SMPN 2 Gedeg dulunya hasil iuran para petani warga Dusun Losari Timur dan Dusun Tumpak. Warga berharap dengan merelakan sebagian tanahnya, anak cucu mereka bisa mengenyam pendidikan di sekolah negeri tersebut.

“Harapannya anak cucu kami sekolahnya tidak jauh-jauh. Yang kami sesalkan mengapa cucu saya tidak diterima di sekolah ini?,” ujarnya.

Tidak hanya cucunya, menurut Mulyadi, terdapat 6 siswa lainnya asal Dusun Tumpak, Desa Sidoharjo yang juga tak diterima di SMPN 2 Gedeg. Para siswa mendaftar ke sekolah ini melalui jalur zonasi.

“Satu-satunya anak Dusun Tumpak yang diterima di sekolah ini memakai KIP (Kartu Indonesia Pintar). Kalau jalur zonasi tidak ada yang diterima,” ungkapnya.

Hal yang sama dikeluhlan Guntur Dedi Susanto (42), orang tua siswa asal Dusun Terusan, Desa Kemantren, Kecamatan Gedeg. Anaknya tersingkir dari SMPN 2 Gedeg akibat sistem zonasi yang tidak transparan penerapannya. Padahal banyak siswa yang jarak rumahnya lebih jauh diterima di sekolah ini.

“Jarak rumah saya 2,14 kilometer. Banyak yang diterima di sini jaraknya lebih dari itu,” terangnya.

Guntur mengaku semakin kesal lantaran tak ditemui oleh Kepala SMPN 2 Gedeg, Mahfud maupun panitia PPDB di sekolah. Dia justru diminta untuk mengadu ke Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto.

“Saya pasrah saja, kami wong cilik, diputer-puter ke manapun tetap wong cilik. Harapan kami anak-anak selanjutnya jangan diperlakukan seperti ini, yang benarlah,” tegasnya.

Kepala Desa Sidoharjo Rifan Hanum mengaku menerima pengaduan 7 orang tua siswa asal Dusun Tumpak yang anak-anaknya tak diterima di SMPN 2 Gedeg. Pihaknya telah berapa kali memediasi para wali murid dengan sekolah. Namun, pihak sekolah terkesan tidak transparan.

“Kami kesulitan saat kami minta data pagu siswa baru ke sekolah, daftar nama dan alamat siswa yang diterima jalur zonasi juga tidak diberi. Ini menjadi pertanyaan kami. Aturan menjelaskan jalur zonasi 80 persen dari pagu, 15 persen KIP dan kepindahan dinas orang tua, 5 persen untuk prestasi. Kami menuntut transparansi,” jelasnya.

Rifan pun menyesalkan sikap SMPN 2 Gedeg yang terkesan melupakan peran warga sekitar dalam pembangunan sekolah tersebut. Menurut dia, lahan yang ditempai sekolah negeri ini hasil iuran 127 petani warga Desa Sidoharjo.

Setiap petani merelakan tanah mereka seluas 208 meter persegi. Hasil urunan para petani itu berhasil mengumpulkan lahan seluas 26.416 meter persegi. Lahan itulah yang kini ditempati SMPN 2 Gedeg.

“Harapan para petani dulu anak cucunya supaya bisa sekolah di SMPN 2 Gedeg. Tapi nyatanya tidak diterima. Padahal jarak rumah rata-rata 1,3 kilometer,” tandasnya. //**dtk

News Feed