oleh

Korut Dicurigai Kembangkan Senjata ‘Kreatif’ yang Bisa Ancam AS

Seoul – Korea Utara  (Korut) dicurigai sedang menguji coba persenjataan yang ‘cerdik’ dan ‘kreatif’ yang bisa mengancam Amerika Serikat  (AS). Hal itu disampaikan pakar pertahanan militer yang telah menganalisis aktivitas uji coba rudal Korut dalam beberapa bulan terakhir.

Seperti dilansir mitrabangsa.online, Senin (9/9/2019), pakar pertahanan militer Korea Selatan (Korsel), Choi Kang, dalam analisisnya menyebut dirinya sedikit khawatir namun terkesan dengan Korut. Disebutkan Choi bahwa Korut tampaknya sedang menargetkan celah di dalam sistem pertahanan udara AS.

“Ini sungguh cara berpikir yang imajinatif dan kreatif dalam menggunakan rudal,” ujar Choi, mantan Direktur Dewan Keamanan Nasional Korsel dan kini merupakan Wakil Presiden Asan Institute for Policy Studies, sebuah think tank terkemuka di Seoul.

Choi mengatakan bahwa uji coba rudal terbaru oleh rezim kim jong um  menunjukkan Korut, untuk pertama kalinya, secara aktif memanfaatkan uji coba senjata untuk menargetkan titik lemah dalam sistem pertahanan rudal canggih yang kini melindungi wilayah AS, Jepang dan Korsel.

Sebelum melanjutkan aktivitas uji coba rudal pada Mei lalu, Korut diketahui tidak menggelar uji coba sama sekali sejak November 2017 atau selama 17 bulan. Selama jeda tersebut, pemimpin Korut Kim Jong-Un dan Presiden AS Donald trump  sempat bertemu sebanyak dua kali untuk membahas denuklirisasi.

Saat perkembangan untuk perundingan Korut dan AS melambat, Korut kembali melanjutkan aktivitas uji coba rudal. Trump terkesan sedikit meremehkan uji coba rudal Korut beberapa waktu terakhir.

Namun para pakar mengkhawatirkan bahwa uji coba terbaru menunjukkan Korut ternyata sudah lebih jauh dalam pengembangan persenjataannya daripada yang diperkirakan sebelumnya. Rudal-rudal Korut secara teori bisa diaktifkan dalam waktu singkat dan bisa mengudara lebih cepat dari rudal sebelumnya.

Beberapa pihak memperingatkan bahwa kemampuan baru pada rudal Korut bisa diterapkan pada rudal-rudal jarak jauh yang bisa mencapai daratan utama AS.

“Tampaknya bagi saya, Korea Utara memiliki kemampuan rudal asli yang sangat, sangat kuat … (yang mampu) untuk mengerahkan seluruh rudal dalam periode waktu sangat singkat,” ujar Choi.

Secara khusus, Choi menyoroti uji coba rudal yang dilakukan Korut pada Juli lalu. Saat itu, Korut menembakkan sejumlah rudal jarak pendek yang sebagian besar mencapai ketinggian antara 25-50 kilometer, dan pada jarak bervariasi antara 220-600 kilometer dari berbagai area peluncuran.

Capaian ketinggian rudal yang diuji coba Korut memicu kekhawatiran, karena mengindikasikan Korut tampaknya berupaya menargetkan ‘celah’ antara dua sistem pertahanan rudal — sistem pertahanan rudal Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).

Diketahui bahwa sistem THAAD mampu menjangkau rudal-rudal dengan ketinggian 50-150 kilometer, sedangkan sistem Patriot menjangkau rudal dengan ketinggian 30 kilometer dan di bawahnya. Korsel disebut sedang mengembangkan sesuatu untuk menutup celah itu

Kim Dong-yub, seorang analis pada Institute for Far Eastern Studies di Kyungnam University di Seoul, menyatakan bahwa rudal-rudal yang diuji coba Korut beberapa waktu terakhir bisa menghindari sistem pertahanan Korsel karena pada ketinggian itu, rudal itu terlalu tinggi untuk dijangkau sistem Patriot dan terlalu rendah untuk ditembak jatuh oleh sistem THAAD.

Terlepas dari itu, purnawirawan Jenderal Militer Vincent Brooks, mantan komandan US Forces Korea, meyakini AS dan sekutunya mampu mempertahankan Semenanjung Korea dari ancaman Korut. Dia menolak untuk menyebut kemampuan pertahanan khusus yang dimiliki AS dan sekutunya. Dia juga menyebut uji coba yang dilakukan Korut akan semakin membantu AS dan sekutunya ‘dalam memahami kemampuan’ persenjataan Korut.

“Saya yakin bahwa komando militer di sana di Korea dan sekitarnya, sedang memikirkan apa yang yang sebenarnya bisa dilakukan untuk ini,” kata Brooks, yang pernah mengomandoi nyaris 650 ribu tentara AS dan Korsel yang tergabung dalam Komando Pasukan Gabungan Korsel-AS tahun 2016-2018 lalu.

News Feed