Harga Roti Dan Mie Bakal Naik Imbas Larangan Ekspor Gandum India

MitraBangsa Jakarta – ┬áKetua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman menyebut harga sejumlah produk pangan seperti biskuit, roti dan mie bakal naik dalam waktu dekat ini. Ia mengatakan potensi kenaikan dipicu oleh larangan impor gandum yang diberlakukan India baru-baru ini. Menurutnya, kebijakan India tersebut berpotensi mendongkrak harga tepung terigu hingga naik sampai dengan 10 persen.

“Dengan adanya kenaikan (harga gandum) yang signifikan dari larangan (ekspor) India itu mau tidak mau, dari informasi yang saya dapat dari anggota yang produksi tepung terigu, mereka akan menaikkan harga sekitar 5 persen sampai 10 persen. Tentunya ini akan berdampak pada produk pangan lain, karena biskuit, roti, mie itu pakai terigu, itu akan ada kenaikan harga” ungkapnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (19/5). Selain larangan ekspor gandum dari India, potensi kenaikan produk pangan tersebut juga dipicu melonjaknya biaya logistik dan energi.

“Menurut saya akan ada kenaikan harga karena semuanya mengalami kenaikan bukan hanya terigu saja, tapi termasuk biaya logistik dan energi. Semua akan ada kenaikan luar biasa,” kata dia. Oleh karena itu, Adhi mengaku industri tengah mencari alternatif pasokan gandum dari Australia, Kanada, dan Argentina.

Terkait pasokan, ia mengatakan saat ini pasokan gandum di produsen tepung terigu masih cukup hingga Juni mendatang atau terbilang aman. Namun, setelah bulan tersebut industri harus menyediakan gandum kembali, jika tidak mereka akan kekurangan. Lebih lanjut, Adhi menuturkan sebenarnya Indonesia masih punya peluang untuk tetap mendapatkan impor gandum dari India. Asalkan, ada pembicaraan antara pemerintah dengan pemerintah (G2G).

“Kami berharap pemerintah bisa segera melakukan persiapan G2G dengan India supaya bisa mendapat pasokan gandum dari India,” ujarnya. Ia menambahkan dalam keadaan seperti ini, pemerintah juga harus bisa menjaga daya beli masyarakat bawah agar tidak menurun. “Pemerintah sementara waktu membantu masyarakat bawah agar daya belinya tetap ada,” tandasnya.

Sebelumnya, pemerintah India resmi melarang ekspor gandum sejak Sabtu (14/5) lalu. Keputusan ini didorong kemunculan gelombang panas yang merusak hasil panen sehingga harga-harga kebutuhan dalam negeri melambung tinggi. Saat ini pasar dunia tengah mengandalkan India sebagai produsen gandum terbesar kedua di dunia, setelah ekspor dari wilayah Laut Hitam merosot karena invasi Rusia ke Ukraina yang belum juga selesai hingga hari ini.

Dua hari setelah larangan ekspor itu diberlakukan, Senin (16/5), harga gandum meroket ke rekor tertinggi. Seperti dilansir dari AFP, harga melonjak menjadi 435 euro per ton saat pasar di Eropa dibuka.//*** MitraBangsa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *