Stok Gandum Industri Makanan Hanya Cukup hingga Juni

MitraBangsa Jakarta –  Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman memperkirakan stok gandum untuk industri hanya cukup sampai Juni mendatang.

“Ketersediaan masih cukup, saya cek dari produsen terigu kira-kira masih punya stok sampai Juni,” ungkapnya, Kamis (19/5). Ia mengatakan stok gandum memang masih dinilai aman. Namun, setelah bulan tersebut industri harus segera mencari persediaan gandum kembali, jika tidak mereka akan kekurangan.

Sayangnya untuk mencari persediaan tersebut bukan hal mudah. Pasalnya, pemerintah India resmi melarang ekspor gandum sejak Sabtu (14/5) lalu. Keputusan ini didorong kemunculan gelombang panas yang merusak hasil panen sehingga harga-harga kebutuhan dalam negeri melambung tinggi.

Padahal, saat ini pasar dunia tengah mengandalkan India sebagai produsen gandum terbesar kedua di dunia. Pasalnya, ekspor dari wilayah Laut Hitam merosot karena invasi Rusia ke Ukraina yang belum juga selesai hingga hari ini. Dua hari setelah larangan ekspor itu diberlakukan, Senin (16/5), harga gandum meroket ke rekor tertinggi. Seperti dilansir dari AFP, harga melonjak menjadi 435 euro per ton saat pasar di Eropa dibuka.

Menurut Adhi, kenaikan harga gandum imbas larangan ekspor dari India itu berpotensi mengerek harga tepung terigu sekitar 5 hingga 10 persen. Ia berpendapat kenaikan harga tepung terigu akan berimbas pada kenaikan harga produk pangan lainnya, seperti biskuit, roti, dan mie.

Potensi kenaikan harga pangan, kata dia, juga kian diperkuat oleh melonjaknya biaya logistik dan energi. “Menurut saya akan ada kenaikan harga karena semuanya mengalami kenaikan bukan hanya terigu saja, tapi termasuk biaya logistik dan energi. Semua akan ada kenaikan luar biasa,” ujarnya.

Karenanya, Adhi mengaku industri tengah mencari alternatif pasokan gandum dari Australia, Kanada, dan Argentina. Sebenarnya, sambung Adhi, Indonesia masih punya peluang untuk tetap mendapatkan impor gandum dari India. Asalkan, ada pembicaraan antara pemerintah dengan pemerintah (G2G).

“Kami berharap pemerintah bisa segera melakukan persiapan G2G dengan India supaya bisa mendapat pasokan gandum dari India,” ujar Adhi.

Dalam keadaan seperti ini, menurut Adhi, pemerintah juga harus bisa menjaga daya beli masyarakat bawah agar tidak menurun. “Pemerintah sementara waktu membantu masyarakat bawah agar daya belinya tetap ada,” tutupnya.//*** MitraBangsa.