Harga Daging Sapi Di Pasar Capai Rp140 Ribu Per Kg

MitraBangsa Jakarta – ┬áPedagang daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Jakarta mulai kesulitan mendapat pasokan karena penyebaran virus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak. “Kalau sekarang stok lagi kacau gara-gara ada PMK, tempat jagalnya ada yang ditutup,” ungkap Iyus (53), salah satu pedagang di Pasar Warung Buncit, Jakarta Selatan, , Jumat (3/6).

Karena pasokan terganggu, saat ini ia menjual daging sapi seharga Rp140 ribu per kilogram (kg). Menurutnya, harga tersebut terbilang tinggi, biasanya daging sapi dijual seharga Rp125 ribu hingga Rp130 ribu saja per kg. Ia juga menuturkan virus PMK membuat pembeli takut untuk mengkonsumsi daging sapi. Oleh karena itu, penjualannya pun menurun 30 persen, padahal biasanya ia bisa menjual 30 kg daging dalam sehari.

Rudi (42), pedagang daging di pasar yang sama juga menuturkan hal serupa. Ia mengaku stok daging terganggu karena PMK sehingga penjualannya menurun 50 persen. “Berpengaruh pada penjualan sampai 50 persen, biasanya sehari habis 40 kg,” kata dia.

Rudi juga mengaku sedikit was-was jika virus PMK belum bisa ditangani dalam waktu dekat. Ia pun saat ini hanya bergantung pada langganan saja. Sebab, beberapa pembeli merasa takut untuk mengkonsumsi daging. Segendang sepenarian, pedagang di Pasar Inpres Pasar Minggu, Jakarta Selatan, juga mengatakan stok daging sapi mulai terganggu karena PMK.

Di pasar tersebut, daging sapi juga dijual seharga Rp140 ribu per kg. “Iya gara-gara virus pasokan agak susah. Sekarang itu cukup berpengaruh pada penjualan omzet bisa berkurang 50 persen biasanya habis 15 kg sampai 20 kg per hari,” kata Opik (40), penjual daging sapi di pasar tersebut.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan populasi hewan ternak yang terkena virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di 17 provinsi telah mencapai 40 ribu ekor. Meski begitu, Syahrul mengatakan jumlah tersebut masih kecil dibandingkan total populasi yang mencapai 30 juta.

“Populasi terkena PMK itu kurang lebih cuma 40 ribu saja dibandingkan dengan jumlah populasi dari 17 provinsi itu 30 juta,” ucap Syahrul. Ia mengatakan pihaknya sudah melakukan langkah antisipasi seperti isolasi dan distribusi hewan ternak. Syahrul juga mengimbau agar isu PMK jangan menjadi konsumsi negatif bagi peternak.

“Kalau sekarang ini kami tidak jor-joran dengan publik kami takut ini akan menjadi konsumsi yang negatif bagi peternak kita yang sebenarnya masih sangat oke, semuanya masih bisa jalan,” kata dia. Ia juga mengatakan pemerintah sedang menaikkan intensitas penanganan PMK di Pulau Jawa. Sebab, penyebaran virus PMK di wilayah tersebut mulai naik. Sementara, untuk di luar Pulau Jawa, ia mengklaim kasus PMK mulai turun. Namun, Syahrul tak merinci berapa tepatnya jumlah hewan ternak yang terkena PMK.//*** MitraBangsa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *