Panggung Kemesraan Puan Dan Megawati Di Rakernas PDIP

MitraBangsa  Jakarta  – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDI Perjuangan (PDIP) yang digelar hari ini (21/6) seolah menjadi panggung kemesraan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan sang anak sekaligus Ketua DPP PDIP Puan Maharani. Kemesraan itu terekspose dalam beberapa momen sepanjang pidato pembukaan Megawati. Yang mencolok saat Mega menyanjung Puan sebagai seorang putri tercintanya.

“Ketua DPR kebetulan putri tercinta saya itu galak sekali,” ujar Mega yang disambut tepuk tangan para peserta Rakernas. Pernyataan itu bermula ketika Mega meminta maaf kepada para kader PDIP atas acara rakernas yang sedianya digelar 2021 namun tertunda akibat pandemi virus corona (Covid-19). Mega mengatakan pandemi membuat kegiatan partai dalam dua tahun terakhir harus digelar secara daring atau hybrid. Ia berkata pelbagai pertemuan yang digelar secara daring tak lepas dari sikap Puan yang melarangnya keluar rumah selama pandemi.

“Saya tidak boleh keluar karena katanya begini ‘mama itu terlalu bersemangat, mama itu ingat usia mama,’ iya saya itu [umur] 57 tapi dibalik [75],” ujar Mega. Atas dasar itu, Mega menilai larangan dari Puan adalah bentuk kecintaan anak kepada ibunya.  “Karena khawatir, itulah kecintaan dari anak saya,” ungkapnya. Momen keakraban antara Mega dan Puan juga terjadi saat Mega berseloroh tak ingin memiliki menantu yang seperti tukang bakso. Mendengar perkataan Mega, Puan lantas tertawa terbahak-bahak. Para kader PDIP yang hadir pun tertawa terbahak mendengar ucapan Mega tersebut.

Megawati langsung meledek Puan yang sedang tertawa dengan penuh kehangatan.  “Hahaha Mbak Puan ketawa. Sorry,” tambah Mega menyoroti Puan yang sedang tertawa Mega menjelaskan bahwa manusia Indonesia ditakdirkan untuk berbeda-beda dari warna kulit dan suku. Karenanya harus berpadu dan bersatu. Lewat penjelasan itu, Mega menekankan kawin campur semestinya bisa dilakukan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku. Ia menceritakan bahwa sang ayah, Sukarno merupakan campuran Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Sementara ibunya, Fatmawati berasal dari Bengkulu. “Kawin campur saja deh. Lho betul lho. Saya ini kan gado-gado. Bung Karno itu kurang apa? Saya bilang bapak saya kayak apa? Beliau tampan dan kharismatik,” kata Mega disambut tepuk tangan.//*** MitraBangsa.