Daftar Harga Pangan yang Naik Jelang Kenaikan Harga Pertalite

MitraBangsa Jakarta – Harga sejumlah bahan pangan terus merangkak jelang kenaikan harga BBM jenis pertalite dan solar subsidi. Mengutip hargapangan.id, Sabtu (3/9), beberapa bahan pangan tersebut adalah cabai merah besar, cabai merah keriting, beras kualitas bawah II, beras kualitas medium II, dan beras kualitas super I. Jika dirinci, harga rata-rata cabai merah besar naik Rp250 menjadi Rp60.750 per kg per 2 September 2022. Begitu juga dengan harga cabai merah keriting yang naik Rp600 menjadi Rp63.550 per kg. Harga rata-rata cabai rawit merah ikut naik Rp200 menjadi Rp62.500 per kg. Bahkan, harga komoditas itu tembus Rp90 ribu per kg di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selanjutnya, harga beras kualitas bawah II naik Rp50 menjadi Rp10.600 per kg per 2 September 2022. Kemudian, harga beras kualitas medium II dibanderol Rp11.800 per kg atau naik Rp50 dan beras kualitas super I dijual Rp13.250 per kg atau naik Rp50. Sementara, mengutip infopangan.jakarta.go.id, harga bawang merah juga merangkak Rp191 menjadi Rp37.319 per kg di ibu kota per 2 September 2022. Harga tepung terigu juga makin mahal menjadi Rp10.244 per kg atau naik Rp127, garam dapur naik Rp21 menjadi Rp3.445 per 250 gram, kentang naik Rp10 menjadi Rp15.585 per kg, tomat naik Rp127 menjadi Rp14.063 per kg, dan daging kambing naik Rp535 menjadi Rp142.857 per kg.

Bahan pangan lainnya yang naik adalah daging sapi murni sebesar Rp212 menjadi Rp143.723 per kg, ikan mas naik Rp76 menjadi Rp36.743 per kg, dan ikan lele naik Rp25 menjadi Rp26.750 per kg. Sebelumnya, Plt Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Syailendra mengatakan pihaknya mengantisipasi kenaikan harga bahan pangan jika harga BBM jenis pertalite dan solar subsidi meningkat. “Kalau (harga) BBM naik itu kan ya pasti ada dampak karena semua komoditas diangkut pakai angkutan, baik darat, udara, laut, pasti ada pengaruh,” ungkap Syailendra. Ia mengatakan masih menghitung biaya transportasi dari total margin perdagangan dan pengangkutan (MPP) untuk masing-masing komoditas. Dari data itu akan terlihat seberapa besar pengaruh kenaikan harga BBM subsidi terhadap harga pangan.

“Lagi hitung berapa pengaruhnya. Datanya ada di Badan Pusat Statistik (BPS), tapi kalau dari BPS belum dipecah biaya transportasi berapa. Kalau ambil contoh misalnya cabai berapa persen,” ujar Syailendra. Selain itu, Kemendag juga masih memetakan pola distribusi masing-masing komoditas. Pasalnya, distribusi dari satu bahan pangan akan berbeda dengan bahan pangan lainnya. “Beda-beda distribusinya, pola distribusi beda, masih dihitung,” imbuh Syailendra. Ia belum bisa memprediksi kenaikan rata-rata harga komoditas jika BBM pertalite dan solar subsidi naik. Hal yang pasti, peningkatan harga pangan tak akan sebesar BBM. Jika harga BBM naik 30 persen, maka bukan berarti cabai atau bahan pangan lainnya ikut meningkat 30 persen.

“Kenaikan biaya transportasi ini tentu tak langsung berkorelasi dengan kenaikan harga komoditas, besarannya tak berkorelasi. Contoh, kalau BBM naik 30 persen, ya tidak menaikkan harga satu barang 30 persen juga,” jelas Syailendra. Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi sinyal kenaikan harga pertalite dan solar subsidi akan diumumkan dalam waktu dekat. Menurut dia, sejumlah menteri terkait memberikan hitungan atau kalkulasi kenaikan harga BBM subsidi kemarin. Sementara itu, Pengamat Energi dari Reforminer Institute Komaidi Notonegoro memproyeksi harga pertalite naik dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10 ribu per liter. Angka itu masih di bawah harga keekonomian yang sekitar Rp15 ribu per liter sampai Rp17 ribu per liter.

“Pertalite tentu harus di bawah pertamax juga yang Rp12.500 per liter, jadi Rp10 ribu oke lah,” ucap Komaidi. Angka Rp10 ribu untuk pertalite, kata Komaidi, juga masih di bawah harga BP yang tembus Rp15 ribu per liter. Namun, Komaidi mengatakan pemerintah juga bisa menetapkan harga pertalite menjadi dua jenis. Motor tetap harga sekarang sebesar Rp7.650 per liter, sedangkan mobil naik menjadi Rp10 ribu per liter. “Kenapa begitu? karena kan sedang pemulihan ekonomi. Kalau naik semua nanti ekonomi kontraksi,” ujar Komaidi. Sementara, ia memproyeksi harga solar berpotensi naik dari Rp5.150 per liter menjadi Rp10 ribu per liter. Angka itu masih di bawah harga keekonomian yang mencapai Rp17 ribu-Rp18 ribu per liter. “Tapi memang kalau naiknya Rp10 ribu agak signifikan dari sekarang Rp5.150 tapi ya monggo yang penting tetap diantisipasi,” tutup Komaidi.//***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *