Seberapa Hemat Menanak Nasi Pakai Rice Cooker Vs Kompor Gas?

MitraBangsa  Jakarta  –  Pemerintah akan membagikan 680 ribu unit penanak nasi listrik atau rice cooker kepada masyarakat. Hal ini dilakukan demi mendukung pemanfaatan energi bersih, meningkatkan konsumsi listrik per kapita, dan penghematan biaya memasak bagi masyarakat. Subkoordinator Fasilitasi Hubungan Komersial Usaha Ketenagalistrikan, Direktorat Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM Edy Pratiknyo mengatakan berdasarkan kajian yang telah dilakukan, menanak nasi dengan rice cooker lebih hemat dibanding menggunakan kompor gas dengan LPG 3 kg.

Edi merinci menanak nasi dengan kompor gas membutuhkan konsumsi energi sebanyak 2,4 kg per bulan dengan total biaya Rp16.800. Sedangkan, jika dengan rice cooker konsumsi energi untuk menanak nasi hanya 5,25 KWH dan energi untuk memanaskan 19,8 KWH per bulan dengan biaya Rp10.396. Dengan demikian, ada penghematan sebesar Rp6.404 per bulan. “Nanti ini tentunya akan dikalikan dengan penerima manfaat di seluruh Indonesia,” ujar Edy dalam Forum Diskusi Publik yang disiarkan secara virtual, Jumat (25/11).

Berdasarkan bahan paparannya, penggunaan rice cooker ini juga berpotensi mengurangi volume LPG sebanyak 19,6 ribu ton, menghemat devisa sebesar US$26,88 juta, serta meningkatkan konsumsi listrik sebesar 42,84 GWH atau setara pembangkit 54,74 MW. Lebih lanjut, Edy mengatakan bantuan penanak nasi listrik (BPNL) sebanyak 680 ribu unit akan disalurkan ke seluruh Indonesia melalui APBN Kementerian ESDM 2023. Adapun nilai paket program ini mencapai Rp500 ribu per KPM. Program ini akan menyasar keluarga penerima manfaat (KPM) yang mengacu data dari Kementerian Sosial (Kemensos).

“Terkait bantuan program penanak nasi, di mana rencana sebanyak 680 ribu unit penanak nasi yang disalurkan ke masyarakat, yang KPM tadi, kelompok penerima manfaat. Tentunya acuannya ke data dari Kementerian Sosial,” jelasnya. Edy memaparkan ada dua jenis rice cooker yang akan dibagikan, yakni yang berdaya listrik 200 watt dan 300 watt. Karenanya, besaran daya listrik tiap rumah tangga akan sangat berpengaruh. Dari bahan paparannya, pada rice cooker 200 watt, penggunaannya relatif dapat digunakan sepanjang waktu karena kapasitas listrik yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Sedangkan untuk rice cooker 300 watt, kegiatan menanak nasi hanya bisa dilakukan hanya pada pagi sampai sore saja.

Pasalnya, jika digunakan pada malam hari atau saat lampu menyala, daya listrik tidak akan kuat alias jepret. Selanjutnya, karena rice cooker 200 watt memiliki kapasitas yang lebih kecil, menanak nasi dapat dilakukan lebih dari sekali untuk memenuhi kebutuhan. Selain itu, para KPM tidak memerlukan penambahan daya langganan. Sedangkan, untuk rice cooker 300 watt, kapasitas listrik yang dibutuhkan lebih besar. Oleh karena itu, kegiatan menanak nasi hanya bisa dilakukan sekali saja dalam sehari. Selain itu, KPM yang mendapat rice cooker 300 watt pun perlu menambah daya untuk kenyamanan memasak. Dengan begitu, perlu ada tambahan biaya untuk menaikkan daya listrik dari 450 VA menjadi 900 VA.

Selanjutnya, tarif listrik pelanggan bersubsidi berubah dari Rp415 per KWH (450 VA) menjadi Rp605 per KWH (900 VA). Adapun jika diberlakukan perubahan daya tanpa mengubah daya kontrak, diperlukan payung regulasi untuk memberlakukan tarif Rp415 per KWH untuk daya 900 VA. Selain itu, perlu tambahan biaya program untuk penggantian MCB di kWh Meter. Karena faktor tersebut, pihaknya mengusulkan bagi pelanggan 450 VA dan 900 VA, diberikan rice cooker kapasitas 0,8 liter dengan daya 200 watt. Kemudian alternatif kedua, untuk pelanggan 450 VA, diberikan rice cooker berkapasitas 0,8 liter dengan daya 200 watt dan pelanggan 900 VA diberikan rice cooker kapasitas 1 liter dengan daya 300 watt. Alternatif ketiga, untuk pelanggan 450 VA dan 900 VA diberikan rice cooker berkapasitas 1 liter dan daya 300 watt. Dengan catatan, pelanggan 450 VA bersedia naik daya ke 900 VA secara mandiri.//***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *