MitraBangsa.Online Jakarta — Kenaikan harga BBM nonsubsidi di Indonesia dinilai sebagai konsekuensi dari meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia.
Ekonom Universitas Airlangga, Wisnu Wibowo, menjelaskan bahwa konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel serta potensi gangguan di jalur strategis Selat Hormuz mulai memberi tekanan pada pasar energi global.
“Penyesuaian harga masih relatif terkendali dan belum melampaui 10%,” kata Wisnu.
Mengikuti Tren Global Harga BBM nonsubsidi di Indonesia mengacu pada indikator internasional seperti Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus, serta mempertimbangkan kurs rupiah dan pajak sesuai regulasi. Dengan harga minyak dunia menembus US$100 per barel, fluktuasi harga sulit dihindari.
Dampak ke APBN Setiap kenaikan US$1 per barel berpotensi menambah beban APBN hingga Rp6,7 triliun. Meski demikian, pemerintah diperkirakan masih menahan penyesuaian harga BBM bersubsidi sebagai opsi terakhir.
Posisi Indonesia di ASEAN Indonesia dinilai masih relatif aman dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Subsidi energi menjadi bantalan utama menjaga daya beli masyarakat.
- Thailand & Vietnam: harga BBM naik signifikan, terutama solar.
- Malaysia: subsidi besar menjaga harga tetap rendah.
- Singapura: harga tertinggi di kawasan karena tanpa subsidi dan pajak energi tinggi.
Komparasi Harga BBM ASEAN (Maret 2026)
| Negara | RON 92 | RON 95 | RON 98 | Solar Subsidi/Diesel | BBM Non Subsidi |
|---|---|---|---|---|---|
| Indonesia | Rp12.300 | Rp12.900 | Rp13.100 | Rp6.800 (subsidi) | Dexlite Rp14.200, Pertamina Dex Rp14.500 |
| Malaysia | – | Rp8.500–11.400 | Rp13.000 | Rp10.000–11.500 | – |
| Singapura | – | Rp45.000 | Rp52.000–55.000 | Rp45.000–47.000 | – |
| Thailand | Rp23.000 | Rp23.000–24.000 | – | Rp17.000 | – |
| Vietnam | Rp22.000–25.000 | Rp25.000+ | – | Rp20.000–21.000+ | – |












